Inside of West Sumatera: Sensasi Meniti Jembatan Akar
Yang Paling Dicari
Sabtu, 03 Oktober 2015

Sensasi Meniti Jembatan Akar



Pernahkah anda membayangkan menyeberangi sungai di atas jembatan hidup, terbuat dari jalinan akar pohon, dibawahnya air mengalir deras dan jernih? Keunikan jembatan dari akar pohon ini memang cukup melegenda tapi jarang yang tahu kalau jembatan akar ini terdapat di Pesisir Selatan.

Pesisir Selatan merupakan Kabupaten paling selatan di Provinsi Sumatera Barat dengan Painan sebagai ibukotanya. Kabupaten seluas 574,989 Ha yang membentang dari utara ke selatan dengan panjang pantai lebih kurang 218 Km, terletak pada posisi 0º 59’ Lintang Selatan sampai dengan 2º 28,6’ Lintang Selatan dan 0º 19’-101º 18’ Bujur Timur memiliki pesona alam dan bisa dibilang one stop shopping-nya ragam wisata.
 
1. How To Get There?

Melancong ke Pesisir Selatan, anda tidak perlu menunggu cuti karena bisa dilakukan saat weekend. Hanya satu kali penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta, anda sudah sampai di Ranah Minang. Perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) ke kota Painan sejauh lebih kurang 87 km bisa ditempuh 2,5 jam perjalanan darat. Sesampainya di BIM, anda bisa menggunakan jasa rental mobil menuju Painan. Tarif rental mobil tergantung nego tapi lazimnya Rp. 500.000 untuk minibus seperti avanza atau xenia. Sewa mobil ini sudah termasuk supir dan BBM. Untuk backpacker bisa menggunakan jasa angkutan umum ke Kota Padang terlebih dahulu. Di Pasar Raya Padang, di sekitar Mesjid Taqwa, anda bisa menemukan angkutan ke Pasisia (sebutan orang Padang untuk Pesisir Selatan).
 
Jika anda sampai Jumat malam di Bandara Internasional Minangkabau, disarankan untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Painan menggunakan kendaraan rental karena angkutan umum dari Padang ke Painan terakhir jam 9 malam. 

2. How Do You Feel Across The Bridge?
 
Jembatan Akar atau titian aka, demikian masyarakat setempat menyebutnya, terletak di Nagari Pulut-pulut Kecamatan Bayang Utara, sekitar satu jam perjalanan arah utara Kota Painan. Jembatan ini cukup unik karena terbuat dari jalinan akar pohon beringin, konon kabarnya sudah berumur hampir satu abad. Jalinan akar beringin tersebut dibuat oleh seorang tokoh bernama Pakiah Sokan pada tahun 1916. Dengan panjang 30 meter, lebar 1 meter dan  ketinggian sekitar 9 meter  dari permukaaan air sungai, Pakiah Sokan menghabiskan waktu 20 tahun hingga jalinan kedua akar bisa menyambung.  

Jembatan ini digunakan sebagai penghubung desa di seberang sungai. Aka dalam bahasa Minang bisa diartikan sebagai akar maupun akal. Akar karena terbuat dari akar pohon sedangkan akal disebabkan jembatan ini dianggap hasil akal fikiran sang tokoh guna mengatasi persoalan penyeberangan penduduk desa seberang sungai kala itu. 

Indahnya Jembatan Akar (Photo By @ednofri)

Saat saya kesana, air sungai lagi keruh kecoklatan akibat semalam hujan turun. Karena ini kali pertama, rasanya tidak mungkin untuk melewatkan sensasi menyeberangi jembatan akar walaupun air sungai dibawahnya mengalir deras. Kami pun memupuk keberanian. Satu per satu langkah kaki diseret dengan hati-hati menapaki jalinan akar pohon beringin yang sedikit licin dan basah, sambil tak lupa untuk mencengkeram jalinan akar pohon yang letaknya lebih tinggi sebagai pegangan tangan. Tapi ternyata ketinggian pegangan jembatan semakin kurang  hingga setinggi lutut orang dewasa, ketika perjalanan baru mencapai setengahnya. Dengan nafas memburu kami berusaha mempercepat langkah, tidak lagi hirau akan desiran kuat arus air menubruk bebatuan yang dilaluinya.

Ketegangan akhirnya terbayar saat duduk-duduk santai di tepian sungai sambil menikmati hangatnya jagung rebus. Menurut penduduk setempat, jika air lagi jernih maka akan terlihat ikan-ikan yang berseliweran di sepanjang sungai Batang Bayang tersebut. Saat ini Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan sudah membuatkan jembatan penghubung lalu lintas warga sehingga Jembatan Akar murni difungsikan untuk tujuan pariwisata saja. 

Suasana Saat Penyeberangan (Photo by @ednofri) 



3 komentar: