Inside of West Sumatera: Dua Sisi Wajah Danau Tarusan Kamang
Yang Paling Dicari
Minggu, 15 November 2015

Dua Sisi Wajah Danau Tarusan Kamang


Bagi yang mengenal Sumatera Barat dengan baik, tentu tidak asing dengan Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Tapi pernahkah mendengar nama Danau Tarusan Kamang? Saya sendiri baru sekali ke sana, padahal letak danau tersebut bersebelahan dengan kampung saya di Bukittinggi. Keberadaan danau tersebut memang populer belakangan sejak publikasi besar-besaran dari fotografer terkenal EJK di media sosial.


Danau Tarusan Kamang ini terletak di Jorong Babukik dan Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudik Kabupaten Agam. Jika anda sedang berada di Bukittinggi, tak lebih dari 45 menit waktu yang dibutuhkan untuk menjambangi tempat ini dari pusat kota. Peta di bawah dapat digunakan sebagai panduan.
Saya menggunakan jalur biru ketika pergi dan jalur hijau ketika pulang. Kedua-duanya sama lancarnya. Dan jangan sungkan untuk bertanya ke penduduk sekitar jika anda ragu terhadap rute yang dituju.

November tahun lalu, saya sekeluarga pertama kali datang kesini. Waktu itu memang sudah diniatkan karena dari cerita orangtua saya danau tersebut memang unik. "Saat musim kemarau, airnya banyak. Saat musim hujan airnya menyusut," demikian cerita mama saat itu. "Kok aneh ya," pikir saya kala itu. Dan kebetulan ada long weekend dan Danau Tarusan Kamang langsung masuk list tempat yang akan dikunjungi.


Jangan Percaya Pada Pandangan Pertama!

Jadilah saya sekeluarga beserta kakak ipar yang memang berdomisili di Bukittinggi datang kesini. Tapi jangan salah, kakak ipar saja yang dari lahir hingga besar di Bukittinggi pun belum pernah kesini. Jadi kami semua memang antusias sekali saat itu.

Rute menuju ke Danau Tarusan Kamang pun tak susah untuk orang yang belum mengenal daerah tersebut. Sayangnya jalannya memang termasuk kecil karena kategori jalan desa. Jadi musti hati-hati saja dengan aktivitas masyarakat sekitar.

Tak lama dari kejauhan sudah tampak bukit Nagari Kamang Mudik yang semakin mendekat. Itu artinya kita akan semakin mendekati Danau Tarusan Kamang. Sawah yang menguning dan menghijau juga akan ada di sisi kiri dan kanan jalan. Semilir lembut angin perbukitan juga menyambut kedatangan kami kala itu. Jadi matikan AC mobil anda dan nikmatilah segarnya AC alam.

Tidak berapa lama, akhirnya sekilas kelihatan, di balik kerumunan rumah-rumah penduduk. "Kok kecil ya, cuma seperti telaga saja," ujar saya. Kami yang tadinya semangat sedikit 'ill feel' karena danaunya cuma 'begitu' saja, sepanjang yang baru terlihat.

Ternyata perhentiannya belum sampai saudara-saudara. Bingung juga awalnya. Beruntung ada penduduk sekitar yang lagi jalan dan katanya rumahnya di dekat perhentian yang dituju. "Ayo jadi navigator, Pak" ujar kami bersama.

Jalan yang awalnya cukup lebar bisa dilalui dua mobil perlahan-lahan mulai menyempit ketika memasuki perkampungan penduduk. Bahkan pada beberapa titik seperti tidak bisa berselilisih. Suami kakak ipar saya yang menyetir cemas sekali kalau misalnya tiba-tiba ada mobil yang datang dari arah yang berlawanan. Untungnya tidak terjadi. Dan perjalanan kami terhenti di suatu tanah lapang di pinggiran bukit.

Dan terpampanglah pemandangan yang syahdu dan rupawan dari Danau Tarusan Kamang dengan perbukitan Nagari Kamang Mudik yang mengelilinginya.

Pemaandangan Danau Tarusan Kamang (Photo by EJK)


Danau Tarusan Kamang, Potensi Yang Belum Tergarap

Danau seluas 38 ha ini pernah dijadikan salah satu lokasi syuting film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Di danau ini anda bisa menggunakan rakit-rakit yang disewakan oleh penduduk sekitar hingga ke pulau di tengah danau. Anda juga bisa duduk-duduk lesehatan di  padang rerumputan yang luas dengan perbukitan di belakangnya. Sayangnya padang rerumputan ini masih digunakan sebagai tempat tambat bagi sapi-sapi masyarakat sekitar.

Walaupun potensinya amat bagus untuk digarap, kondisi kepariwisataan di Danau Tarusan Kamang memang miskin fasilitas. Fasilitas seperti toilet pun bahkan tak ada karena memang hingga sekarang pengelolaan masih oleh masyarakat sekitar. Kalau pemerintah daerah serius menggarap danau ini bisa digunakan untuk berbagai permainana/wahana air lainnya. Padang rerumputan yang luas menghadap ke danau dapat digunakan sebagai tempat berkemah atau pun bisa juga dibuat saung-saung bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam. Tak lupa juga  disediakan tempat-tempat jajan yang cukup representatif. Tentunya ini akan lebih menimbulkan multipier effect bagi masyarakat sekitar.



 Apa Uniknya Danau Tarusan Kamang?

 Danau Tarusan Kamang ini memang memiliki keunikan yang tidak dipunyai oleh danau-danau lain di Indonesia. Pada periode tertentu airnya sangat banyak, namun pada periode yang lain air menyusut hingga mengering. Apakah dipengaruhi oleh periode musim hujan atau musim kemarau? Ternyata tidak juga.



Photo by EJK























Seperti terlihat pada foto disamping, air danau penuh pada bulan Januari 2014, tetapi kering pada bulan April 2014.












Untuk tahun 2015 sendiri pada bulan Juli air danau sangat banyak, sedangkan pada September 2015 air menyusut hingga kering.










Nah, sebenarnya apa penyebab Danau Tarusan Kamang mempunyai dua sisi wajah yang demikian? Apa yang terjadi pada air danau tersebut hingga bisa kering dan muncul pada waktu-waktu yang tidak bisa dipastikan?

Dari hasil laporan riset Dr. Andang Bachtiar (Ketua Dewa Ikatan Ahli Geologi Indonesia) yang dipelopori oleh Pemda Kab. Agam disebutkan bahwa Danau Tarusan Kamang merupakan danau karst dan juga merupakan danau tektonik pisah regang. Menurut Andang, hanya ada dua danau karst di dunia yang mengalami hilang/munculnya air secara tiba-tiba, yakni di Danau Tarusan Kamang ini dan danau di Italia.

Fenomena terisi atau hilangnya air di danau disebabkan karena prinsip bejana berhubungan, yakni hubungan antara cekungan danau dengan sungai-sungai bawah tanah yang ada di kedalaman tebing dan punggungan gunung batugamping di bagian timur dan selatan danau . Ketika mua air sungau bawah tanah surut maka air danau pun ikut mengering. Namun jika muka air sungai bawah tanah naik maka air danau akan terisi penuh.



Photo by EJK


Nah darimana air bisa keluar masuk mengisi danau tersebut. Ternyata melalui lubang-lubang atau rekahan di celah-celah bebatuan dasar danau berdiameter lebih kurang 50 cm. Masyarakat sekitar menyebutkannya sebagai Aie Luluh seperti gambar disamping.













Dan tentunya Danau Tarusan Kamang ini akan semakin menarik dengan idenya Bupati Agam untuk menjadikan danau ini sebagai Integrated Multi-diciplice Scientific Research and Tourism. Dan tentunya jika anda berkunjung ke Bukittinggi, jangan lupa menyempatkan untuk datang menikmati keunikan Danau Tarusan Kamang ini.

***







4 komentar:

  1. ambo urang sumbar alun sampai ka situ ni..baru liek di internet dan foto EJK ttg tarusan kamang.semoga pas pulkam bisa mampir :) nice artikel..salam kenal ni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenak jg. klo pulkam sempatkan datang

      Hapus
  2. Viewnya bagus banget. Deg-deg an ngebayangin naik rakitnya.


    Hihihiiii

    BalasHapus
  3. jadi ngarep bisa nyasar sampai sumatera pulak, biar bisa menikmati pesona danau TArusan:)

    BalasHapus