Inside of West Sumatera: Festival Siti Nurbaya 2016, Sebuah Upaya Mengangkat Pariwisata Kota Padang
Yang Paling Dicari
Kamis, 08 September 2016

Festival Siti Nurbaya 2016, Sebuah Upaya Mengangkat Pariwisata Kota Padang

Festival, Siti Nurbaya, Padang

Kota Padang, Dulu dan Sekarang

Ada yang bilang, kota Padang termasuk kota yang termasuk tertinggal dari segi perkembangan dibandingkan dengan semua ibukota pada provinsi di Pulau Sumatera. Lihat saja bagaimana pesatnya pembangunan di provinsi-provinsi yang berdekatan. Jalan tol, jalan layang, beragam infrastruktur baru sebagai penanda kemajuan ekonomi. Tapi bagaimana dengan kota Padang? Tanpa mengkerdilkan arti dan dampak gempa terhadap perekonomian, tapi secara umum perkembangan kota Padang tidak begitu banyak dari waktu ke waktu.


Apa pasal? Dapat dipahami bahwa kota Padang bukanlah sebuah kota bisnis. Aktifitas perdagangan lebih didasari oleh unsur demand and supply dari penduduknya. Kota Padang yang mempunyai jumlah penduduk satu juta orang ini pada tahun 2014, juga minim sumber daya alam. Praktis hanya PT Semen Padang satu-satunya perusahaan kebanggaan yang bermain di level nasional.

Jangan-jangan, jika suatu hari bukit Karang Putih sudah kehabisan deposit kapur, kota Padang juga akan mengalami mati suri seperti halnya dulu Sawahlunto setelah era batubara berakhir.  Walaupun ini terlalu pesimis, dengan beralasan kota Padang tidak semata-mata industri semen, tetapi kedepan harus dipikirkan kota Padang harus di branding sebagai apa. Karena tentunya warga kota Padang tidak ingin mengalami sebagaimana lesunya perekonomian Sawahlunto dulu sebelum Alm Amran Nuh datang membenahi.

Pariwisata Sebagai Masa Depan Kota Padang

Saat ini memang pariwisata baru menempati peringkat keempat dari penyumbang devisa Negara setelah bidang oil and gas, coal, dan crude palm oil. Tidak hanya dari devisa, industri pariwisata memberikan multiplier effect terhadap masyarakat sekitar. Industri perhotelan, industri kreatif seperti kuliner dan cinderamata merupakan industri yang banyak menyerap tenaga kerja untuk menikmati berkah dari pariwisata. Hingga lima tahun kedepan, pemerintah menargetkan sekitar 20 juta orang wisatawan mancanegara datang ke Indonesia.  Dan tidak mungkin pariwisata akan menjadi sektor utama pendapatan Negara.

Pertanyaan terbesarnya adalah seperti apa branding pariwisata kota Padang. Bagaimana kondisi terkini kegiatan kepariwisataan kota Padang? Mampukah kota Padang memanfaatkan situasi dan target diatas?
Posisi sebagai ibukota propinsi sebenarnya merupakan sebuah keuntungan yang harus bisa dimanfatkan secara maksimal . Semua destinasi wisata lain di propinsi Sumatera Barat tidak dapat dituju tanpa melewati kota Padang, jika sebelumnya menggunakan moda transportasi udara. Boleh dikatakan Padang merupakan pintu masuk provinsi Sumatera Barat. Sehingga sesungguhnya kita tidak perlu memiliki driven factor khusus untuk menarik kunjungan orang-orang ke Padang.

Tapi apa yang sering kita saksikan dewasa ini kegiatan kepariwisataan di Padang seperti sedang tidur terlelap. Wisatawan mancanegara hanya menjadikan Padang sebagai kota transit menuju destinasi lain. Kunjungan wisatawan lokal mengisyaratkan bahwa semakin rendahnya minat merek untuk memilih Padang sebagai destinasi wisatanya. Permasalahan utama dari Pariwisata Kota Padang adalah rendahnya pengelolaan dan  pemanfaatan objek wisata, tidak adanya daya tarik wahana yang unik disetiap destinasi, kurangnya keterlibatan stake holders kota untuk ikut membangun, pengelola yang belum memiliki sikap hospitality, belum adanya tema yang menspesifikan (Tagline) wisata kota padang, dan belum ada objek wisata yang menarik dan spesifik dibandingkan dengan objek wisata lainnya yang ada di Sumatera Barat.
Merujuk kepada pengelompokan jenis-jenis wisata berdasarkan UU no 10 tahun 2009, maka ada tiga  wisata yang dapat ditonjolkan sebagai Branding kepariwisataan kota Padang. Pertama adalah wisata bahari, meliputi pantai-pantai dan pulau-pulau yang indah di lepas pantai barat Sumatera. Kedua adalah wisata sejarah dan kuliner, diwakili oleh kawasan kota tua/kampung cina. Ketiga adalah wisata alam. Tak dapat dipungkuri sebenarnya kota Padang juga memiliki air terjun yang indah namun minim fasilitas dan akses yang sulit.

Lalu apa yang mesti dilakukan untuk mengangkat pariwisata kota Padang? Mengutip pernyataan Menpar Arief Yahya, yang menyatakan bahwa kesuksesan suatu pariwisata bertumpu kepad 3 A yakni Aksesibilitas, Atraksi, dan Amenitas.

Faktor pertama aksesibilitas diperlihatkan oleh adanya kecukupan infrastruktur secara kuantitas dan kualitas yang saling berkesinambungan antar destinasi pariwisata. Kita tahu bahwa kota Padang juga memiliki air terjun yang indah seperti Lubuk Tampuruang dan Sarasah di dekat Bukit Limau Manis. Juga terdapat air terjun tujuh tingkat di Bungus. Tapi untuk mencapai lokasi tersebut infrastruktur jalan tidak mendukung. Belum lagi kalau kita berbicara infrastruktur laut untuk mencapai pulau-pulau cantik di pantai barat Sumatera yang masih mengandalkan kapal-kapal tradisional yang diragukan standard keamanan dan keselamatannya. Begitu juga infrastruktur jalan menuju Pantai Air Manis yang tidak mengalami perubahan ke arah perbaikan sejak beberapa tahun lalu, padahal siapa yang tidak kenal dengan Legenda Malin Kundang.

Faktor kedua yakni atraksi. Dapat dikatakan pariwisata Padang belum mengolah atraksi pada setiap destinasi secara optimal. Pariwisata masih diandalkan dari ekspos anugerah alamnya yang cantik. Adanya atraksi yang beragam pada setiap destinasi pada akhirnya akan memperlama masa menginap tamu di suatu daerah. Karena inilah multipier effect yang diinginkan dari suatu pariwisata. Tidak hanya mengupayakan ramainya suatu destinasi dikunjungi. Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) tamu asing dan domestik di Sumatera Barat pada bulan Desember 2015, bulan dengan tingkat kunjungan tertinggi pada tahun 2015, hanya 1,33 hari. Sedangkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) kota Padang pada bulan Desember 2015 mencapai 59, 53%. Memperbanyak atraksi akan berpengaruh kepada faktor RLMT dan TPK. Tanpa adanya atraksi hanya akan menyebabkan pariwisata menjadi jenuh dan membuat wisatawan sungkan untuk datang kembali.

Faktor ketiga adalah amenitas. Berbicara amenitas merupakan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh wisatawan pada daerah/destinasi yang dikunjunginya. Diharapkan semua daerah kabupaten/kota di Sumatera Barat akan mempunyai sarana dan prasarana yang mencukupi untuk kebutuhan wisatawan di daerahnya. Saat ini memang kota Padang dan Bukittinggi yang dianggap mempunyai sarana dan prasarana terlengkap. Karena itu kota Padang dan Bukittinggi merupakan kota dengan tingkat TPK yang paling tinggi. Suatu anomaly yang terjadi di kota Padang adalah menjamurnya pembangunan hotel pasca gempa tahun 2009. Walaupun sudah ada prediksi akan terjadinya Megatrust yang mengancam kota Padang, tetapi pertumbuhan hotel tetap tinggi. Ini bisa ddijadikan sebagai kekuatan kota Padang untuk menjalankan kepariwisataan yang berbasis MICE (Meeting, Conference and International Event).

Festival Siti Nurbaya, Sebuah Ikon Event Budaya Kota Padang

Festival Siti Nurbaya pertama kali diadakan pada tahun 2011. Jadi tahun ini merupakan gelaran yang keenam kali. Pelaksanaan Festival Siti Nurbaya ini memang ditujukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan pariwisata ke kota Padang dan sekaligus memeriahkan ulang tahun kota Padang yang jatuh pada tanggal 7 Agustus. Pertunjukan budaya dan perlombaan  yang mengangkat budaya lokal khususnya Kota Padang dijadikan sebagai agenda tetap festival.  Dan, kemarin hari rabu tanggal 7 September 2016, Festival Siti Nurbaya telah secara resmi dibuka di Taman Muaro Lasak Padang oleh Bapak Wakil Walikota Padang.
Rangkaian Kegiatan

Beragam elemen masyarakat dilibatkan untuk mensukseskan agenda festival. Mulai dari urusan RT/RW, SKPD-SKPD, masyarakat umum dan yang membedakan warna festival pada tahun ini adalah keikutsertaan kawula muda dalam kegiatan festival. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mengenalkan budaya Minangkabau kepada generasi muda sehingga identitas lokal budaya tetap dipertahankan.  Sangat disadari bahwa generasi muda sekarang sangat dekat dengan media sosial dan media sosial memang terbukti ampuh sebagai media sosialisasi/diseminasi dengan keunggulan kecepatan, jangkauan dan real time. Untuk itu pada penyelenggaraan festival Siti Nurbaya sekarang, juga memperlombakan beragam media sosial. Sehingga diharapkan gaung pelaksanaan event ini tidak hanya bersifat lokal tapi juga dalam skala nasional.

Namun untuk  kesempurnaan dan kesuksesan acara festival, terdapat beberapa masukan untuk dapat diagendakan pada tahun-tahun berkutnya. Yang pertama adalah minimnya kegiatan bazar/pameran yang menampilkan produk budaya Minangkabau. Rangkaian kegiatan festival dengan bazar/pameran harusnya bisa disinergikan karena kedua hal tersebut bisa saling melengkapi. Bazar/pameran dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan peran UMKM dalam pariwisata Sumatera Barat. Sebagai perbandingan dalam acara Sawahlunto International Songket Carnaval (SISCA)Agustus kemarin, panitia juga menyediakan gedung khusus untuk penyelenggaraan bazar namun dalam jarak yang tidak berdekatan dengan pusat kegiatan SISCA.

Yang kedua patut dipertanyakan adalah branding kegiatan dengan menggunakan nama Siti Nurbaya. Kalau diperhatikan tidak ada hubungan historis antara rangkaian kegiatan dengan nama Siti Nurbaya. Kalau dulu pada tahun pertama penyelenggaraan, masih ada lomba pemilihan tokoh Siti Nurbaya, namun beberapa tahun terakhir acara ini ditiadakan. Disamping itu lokasi kegiatan tidak di sekitar Gunung Padang, tempat yang dipercayai sebagai lokasi makam Siti Nurbaya. Sehingga sama sekali tidak ada hubungan kausalitas antara agenda kegiatan dengan nama kegiatan.

Faktor ketiga adalah keikutsertaan daerah lain. Ada baiknya bahwa peserta tidak hanya berasal dari kota Padang saja tetapi juga mengikutsertakan utusan dari daerah di Sumbar lainnya. Untuk itu pertunjukan dan perlombaan yang ditampilkan akan menampilkan beragam budaya dari daerah-daerah lain di Sumatera Barat. Misalkan ada parade baju pengantin sesuai kekhasan daerah dimana bentuk dan rangkaian acaranya saja berbeda. Kita lihat untuk daerah Padang, penganten sering diarak di jalan bahkan terkadang mempergunkan bendi.

Kita harus tetap optimis bahwa Sumatera Barat dan Padang khususnya harus terus membesarkan pariwisatanya. Perbaikan dan penyempurnaan dari setiap kegiatan tahunan Festival Siti Nurbaya perlu terus dilakukan. Diferensiasi dengan kegiatan sejenis di daerah lain dan unsur kebaharuan amat diperlukan dalam upaya mengangkat pariwisata Sumatera Barat dan kota Padang. Semoga kedepan Padang dan Sumatera Barat mampu menjadi daerah tujuan utama pariwisata Indonesia.

**AV**

3 komentar:

  1. wah seru tuh ikutan festivalnya! semoga ada kesempatan dilain waktu! :D

    Adis takdos
    travel comedy blogger
    www.whateverbackpacker.com

    BalasHapus
  2. Padang memiliki banyak pantai & budaya yg beraneka ragam..
    Paket Tour Lombok

    BalasHapus
  3. Ini juga yang saya pikirkan Bun, terutama di masalah SDM-nya. Keelokan alam di Sumatera Barat masih belum dilengkapi dengan keramahan dan kenyamanan servis dari penduduk lokal. Dari segi kesopanan saja misalnya, orang kita masih kalah sopan dibandingkan orang luar pulau (sebut saja orang Jawa). Perlu ditatar habis-habisan mungkin ya... :D

    Disamping menuntut pemerintah untuk membereskan masalah pariwaisata ini, kira-kira apa yang bisa kita lakukan sebagai individu ya?

    BalasHapus