Inside of West Sumatera: Mungkinkah Maelo Pukek Dijadikan Atraksi Wisata Kota Padang?
Yang Paling Dicari
Kamis, 01 September 2016

Mungkinkah Maelo Pukek Dijadikan Atraksi Wisata Kota Padang?


Matahari belumlah tinggi. Jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh di pagi hari kala itu. Belasan nelayan yang terkumpul dalam kelompok Marco Polo tampak bersiap-siap menaikkan gulungan pukat/jaring sepanjang kurang lebih 500 meter ke atas perahu motor. “Mau berangkat ya, Pak?” tanya saya pada salah seorang, yang kemudian dijawab dengan anggukannya. Tak lama dua orang anggota kelompok nelayan bersiap untuk melaut. Satu tali dari lengan kanan pukat telah diikat ke biduk yang bertengger di pantai. Bunyi mesin perahu motor menderu. Pukat yang terbuat dari benang titoron siap ditebar di lautan.


Maelo Pukek, Tradisi, Nelayan, Padang
Nelayan Bersiap Maelo Pukek

Hanya dua orang dari anggota kelompok yang pergi menebar pukat ke laut. Satu orang mengemudikan perahu motor dan satu orang menebar pukat. Untuk membuat sisi atas dari pukat tidak terbenam, dipergunakan dua buah ban untuk mengapungkannya. Dalam waktu kurang lebih setengah jam, pukat telah direntangkan mengelilingi laut sejauh 1 km dari bibir pantai.

Tak menunggu lama, setelah dua nelayan tersebut kembali ke pantai, seluruh anggota kelompok nelayan Marco Polo bersiap-siap untuk melakukan Maelo Pukek. Prosesnya sederhana saja. Dua tali lengan pukat akan ditarik oleh sekitar sepuluh orang pada masing-masingnya. Dengan langkah mundur teratur dan irama yang sama, kedua lengan ditarik mundur. Satu orang paling belakang akan berpindah ke depan jika sudah menyentuh garis belakang pantai.  Dan begitu seterusnya. Dalam waktu kurang dari kurang dari dua jam, pukat yang telah terisi ikan berhasil dibawa ke darat.
Prosesi Maelo Pukek

Maelo Pukek, Tradisi Nelayan Pesisir Ranah Minang

Nelayan tradisional di pesisir Nusantara umumnya mempunyai metode yang hampir sama dalam menangkap ikan. Penggunaan kapal bagan, kapal payang maupun jaring pukat merupakan tiga cara yang sering ditempuh nelayan dalam menangkap ikan. Maelo pukek di Sumatera Barat hampir sama pelaksanaannya dengan Tarek Pukat  nelayan Pulau Pusoeng Aceh dan Pukat Darat oleh nelayan  Indramayu Jawa Barat.

Maelo pukek atau menarik pukat/jaring merupakan metode penangkapan ikan dengan cara menebar pukat ikan di dalam laut dan kemudian secara bersama-sama ditarik ke darat.  Secara turun-temurun Maelo Pukek telah dilakukan oleh nelayan Sumatera Barat. Namun kini keberadaan nelayan yang menggunakan metode Maelo Pukek dalam penangkapan ikan kian hari kian menyusut. Hanya di beberapa kawasan tertentu saja di sepanjang pesisir Sumatera Barat kita bisa menjumpai tradisi ini dilakukan. Nelayan di Sungai Pinang, Sago, Painan dan Sungai Nipah di Kabupaten Pesisir Selatan, beberapa kelompok nelayan di Pantai Purus dan  Lubuk Buaya Kota Padang dan beberapa daerah di Kabupaten Padang Pariaman masih setia Maelo Pukek-nya dalam menangkap ikan.

Maelo Pukek dapat disebut sebagai sebuah tradisi penangkapan ikan yang harus terus dipertahankan keberadaannya. Sebagai sebuah metode yang mengedepankan asas kebersamaan dan gotong royong yang sudah jarang ditemukan landasan dalam hal mata pencarian. Dari semangat kebersamaan dan gotong royong tersebut akhirnya setiap anggota kelompok nelayan dapat menikmati kerja keras yang dirasakan.
Namun demikian, kebersamaan dan gotong royong saja tidak cukup untuk mensejahterakan setiap anggota kelompok nelayan. Semangat kejujuran musti dipunyai agar setiap anggota mendapatkan distribusi pembagian pembayaran atas penjualan ikan pada porsi yang sesuai.

Hingga tahun 2013, menurut Pak Doni Bendahara Kelompok Nelayan Marco Polo di Purus Padang, menyatakan hanya terdapat 38 kelompok nelayan Maelo Pukek di Sumatera Barat. Dari jumlah ini terkonsentrasi pada beberapa daerah di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Barat seperti yang disebutkan di atas.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan minimnya pelaku Maelo Pukek di Sumatera Barat, yakni :

a.    Faktor tantangan alam
Tidak semua laut lokasinya dapat dilakukan Maelo Pukek. Lut-laut yang tidak berpantai dan laut yang berkarang otomatis Maelo Pukek tidak bisa dilakukan. Maelo Pukek membutuhkan pantai yang cukup lebar dan landai untuk menarik tali pukat/jarring ke darat.

Faktor alam yang kedua adalah akibat besarnya ombak pada waktu-waktu tertentu. Ini berhubungan dengan fase dari bulan purnama hingga kemudian susut. Selama seminggu pada periode ini, kelompok nelayan tidak melaut karena ombak besar dan hasil tangkapan yang juga jauh berkurang.

b.    Tantangan ketiga yang menyebabkan menurunnya kegiatan Maelo Pukek juga dikarenakan pada daerah-daerah tertentu banyak terdapat timbunan sampah di laut. Sampah-sampah ini berpotensi merusakkan pukat/jaring nelayan. Kayu-kayu bekas, botol-botol minuman adalah jeni-jenis sampah yang banyak ditemukan. Pada musim hujan volume sampah akan semakin banyak seiring meningkatkan volume air sungai yang bermuara ke laut.

c.    Diluar itu rendahnya kuantitas hasil yang didapat dari Maelo Pukek yang bisa dilakukan per hari yakni hanya dua kali sehari dan besarnya modal yang dibutuhkan untuk membuat seperangkat pukat yang mencapai Rp 15 juta rupiah untuk pukat sepanjang 200 m, turut menyumbang berkurangnya nelayan yang melakukan Maelo Pukek.
Hasil Yang Tidak Seberapa

Inovasi Maelo Pukek Dalam Kerangka Pengembangan Wisata Bahari

Sebagai daerah yang terletak di pesisir barat Sumatera, memang sudah selayaknya provinsi Sumatera Barat mengembangkan wisata bahari pada obyek-obyek yag dianggap potensial untuk dikembangkan. Bahkan wisata bahari merupakan salah satu program unggulan Kementerian Pariwisata dalam menggenjot pariwisata nasional. Pantai Purus, pantai Sago dan pantai lainnya yang hingga kini masih terdapat kegiatan Maelo Pukek, dapat memasukkan atraksi budaya ini sebagai bagian pengembangan kawasan wisata bahari.

Khususnya kota Padang yang sedang membenahi kawasan wisata pantainya, masih terfokus pada penertiban kawasan pantai dari kegiatan-kegiatan seperti PKL (pedagang kaki lima) liar dan pemalakan. Belum ada niatan dari pemerintah daerah untuk menjadikan kegiatan Maelo Pukek ini sebagai salah satu aset wisata yang menarik untuk dijual. Hingga saat ini, Maelo Pukek masih dianggap oleh pemerintah daerah sebatas mata pencarian bagi nelayan. Pemberian bantuan modal dan penyuluhan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan belum menganggap Maelo Pukek sebagai bagian tradisi yang mesti tetap dipelihara. Pemerintah daerah hanya menjadikan kegiatan Maelo Pukek sebagai salah satu rangkaian acara dalam setiap agenda festival tahunan.

Untuk itu sudah seharusnya kegiatan Maelo Pukek dijadikan sebagai bagian dari aset wisata bahari Sumatera Barat. Tentunya hal ini membutuhkan sejumlah perbaikan disana sini sehingga kemasan atraksi Maelo Pukek layak jual dari sisi komersialnya, khususnya terhadap nelayan sebagai pelaku Maelo Pukek. Bahkan tidak semua masyarakat Padang khususnya tahu, dimana dan kapan aktivitas Maelo Pukek dilakukan. Untuk itu sosialisasi dan diseminasi tentang Maelo Pukek ini harus dilakukan baik di media sosial maupun on the spot dengan pembuatan papan-papan pengumuman.

Kegiatan Maelo Pukek harus mampu membuat masyarakat atau penikmat pariwisata mampu untuk melihat prosesi kegiatan dari awal hingga akhir. Kalau sekarang, kegiatan dilakukan dengan sunyi senyap, kedepannya musti mampu menarik perhatian masyarakat. Misalkan dengan melakukan teriakan hitungan mundur ketika menarik pukat/jaring. Jika perlu mempergunakan alat-alat bunyi ketika prosesi tersebut dilakukan. "Kami tidak ada melakukan ritual-ritual khusus ketika Maelo Pukek," jawab pak Doni ketika saya tanya. Jadi memang perlu untuk menjadikan Maelo Pukek menjadi atraksi yang menarik

Setidaknya ada dua alasan yang membuat Maelo Pukek layak sebagai aset wisata. Pertama, kelestarian Maelo Pukek harus tetap dipelihara. Jangan sampai suatu saat tradisi ini sudah tidak bisa dijumpai lagi. Maelo Pukek dilakukan dengan semangat kebersamaan yang dilandasi dengan kejujuran dan kepercayaan diantara sesama anggota kelompok nelayan. Dari jumlah tangkapan yang rata-rata dua baskom/ember besar setiap kali melaut, hanya 2/3 bagian pendapatan dari penjualan ikan yang dinikmati oleh nelayan. Sedangkan 1/3 bagian lain merupakan hak pemilik pukat sekaligus pemilik perahu motor. Dari 2/3 bagian tersebut, anggota yang menebar pukat ke laut akan mendapatkan bagian dua kali lipat. Sehingga memang Maelo Pukek memang mata pencarian yang memiliki kekhasan tersendiri. Yang kedua, Maelo Pukek memiliki  nilai edukasi yang tinggi terlebih untuk anak-anak. Edukasi untuk mengenal jenis-jenis profesi dan  nilai-nilai kejujuran dan kesyukuran dalam hidup, amat kental kita jumpai dari aktifitas Maelo Pukek.

Problem pengelolaan pariwisata Sumatera Barat tidak hanya sebatas karena infrastruktur transportasi yang masih minim, kurangnya fasilitas pendukung di setiap destinasi wisata, sarana akomodasi yang masih terpusat di kota Padang dan Bukittinggi. Beberapa agenda/event pariwisata belum dikelola secara serius, budaya masyarakat yang belum peduli dan ramah pariwisata, tidak tersedianya informasi kegiatan/event pariwisata yang memadai merupakan sederet permasalahan yang menimpa industri pariwisata Sumatera Barat diluar problem dana yang terbatas. Dukungan pemerintah pusat dan implementasi visi misi dari Gubernur dan Wakil Gubernur untuk mengembangkan pariwisata daerah diharapkan mampu menempatkan kegiatan Maelo Pukek sebagai atraksi budaya yang menarik. Dan tak lupa adalah partisipasi aktif dari masyarakat akan menciptakan pengelolaan pariwisata yang inklusif. Posisi geografis Provinsi Sumatera Barat hendaknya dapat mengkokohkan Provinsi Sumatera Barat sebagai ceruk yang belum tergarap serius sehingga diharapkan adanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan pada tahun-tahun yang akan datang. Sudah saatnya kita bergerak bersama-sama.


***

Tulisan Ini Diikutsertakan Dalam Lomba Blog Untuk Memeriahkan Festival Siti Nurbaya 2016


7 komentar:

  1. PEnangkapan ikan model tradisional ini sebenarnya banyak yang ramah dengan alam ya mba, tidak menggunakan bom atau peledak yang bisa mengganggu ekosistem di laut.

    BalasHapus
  2. Mba Yervi...pa kabar, semoga masih ingat. hehe kemarin pas di acara semen padang. Mba Yervi ga ikut acara jalan ya? eh pas dicariin kok udah ga ada aj. Si Mumut yang kasih tau itu mba Yervi blogger dari padang.

    BalasHapus
  3. mba tulisan feature nya bagussss..semoga menang yaa

    BalasHapus
  4. Moga2 Maelo Pukek makin estari dan pemerintah makin tegas menindak nelayan nakal yg mencari ikan dengan jalan instan :)

    BalasHapus
  5. Semoga Maelo Pukek ini tetap lestari yaa, siapa lagi kalo bukan kita ya Mba?
    jadi penasaran kayanya seru ikutan nangkap ikan begitu yaa :D

    BalasHapus
  6. Pernah melihat nelayan menjaring ikan dengan pukat, dari satu kapal ke kapal lainnya dihubungkan. Gotong royongnya ini salut banget.

    Apalagi kalo menghadapi tantangan jika berada di daerah pantai berkarang. Bahkan kalo nggak salah metode pukat ini dilarang untuk daerah pantai berkarang, kuatir merusak ekosistem di sana. #cmiiw

    BalasHapus
  7. Bisa banget Mbak.... asyik banget kalo melihatnya lho. Tapi agar menarik harus dijadikan festival...

    BalasHapus