Inside of West Sumatera: Kembali Ke Masa Kolonial DI Weekend Cafe Padang
Yang Paling Dicari
Sabtu, 25 Februari 2017

Kembali Ke Masa Kolonial DI Weekend Cafe Padang

weekend, cafe, padang, klasik, kolonial

Jika ada yang bertanya kriteria kepuasan terhadap suatu Cafe, maka katakanlah empat faktor berikut yakni : tempat, menu, harga dan pelayan. Dan itu semua ada di WEEKEND

Saya telah jatuh cinta dengan Weekend, jauh sebelum saya tahu nama dan dimana Café tersebut berada. Adalah @sametphotography yang pertama kali memposting di akun instagramnya ketika Weekend baru saja selesai di restorasi.

Akhirnya kesempatan pun datang untuk hang-out ke Kampung Cina. Persis saat liburan Imlek, saya ingin mengajak anak-anak wisata edukasi untuk melihat umat agama/etnis lain dalam merayakan hari besar dalam kepercayaan mereka. Susahnya saya tidak terlalu tahu seluk-beluk jalan-jalan di Kampung Cina, karena memang tidak sering melewatinya. Kami juga tidak memasang petunjuk arah Google Map karena memang kita sebenarnya tidak tahu arah tujuannya.

Jadi memang kita hanya jalan-jalan menikmati sore di kawasan kota tua Padang. Tak dinyata ternyata kita memasuki jalan Kelenteng dan  mata saya langsung terperangah.

Weekend ada di depan mata. Hore....

Kesukaan saya terhadap bangunan-bangunan antik, kuno dan bersejarah itu sudah dari lama. Ada kenikmatan tersendiri ketika kita bersentuhan dengan jejak masa lalu. Suami malah meledeki saya harusnya jadi arkeolog aja. Kita memang berbeda selera. Namun sering kali akhirnya doi mengiyakan selera saya. Dulu saat di Museum Sampoerna Surabaya, awalnya dari gak mau masuk, akhirnya terpesona oleh sihir kecepatan tangan buruh rokok. Nah, apakah di Weekend kali ini, pengalaman suami akan kembali berulang?

Old but Gold

*Sebelum Restorasi

Bangunan Weekend ini seperti pada umumnya bangunan masa kolonial yang bergaya klasik art deco. Dengan ciri khas pintu dan jendela besar . Tidak diketahui kapan tahun pembuatan gedung tersebut. Tapi dari alih kepemilikan, bangunan ini sudah tidak difungsikan oleh pemilik lamanya.

Ketika akan dipugar, oleh pemerintah daerah tidak mengizinkan untuk merubah facade gedung tersebut. Mengikuti pola restorasi bangunan golongan B yang harus tetap mempertahankan keasliannya walaupun bangunan tersebut tidak bersejarah. Tata ruang dalam dapat diubah tetapi tidak mengubah struktur utama.

Jadilah beberapa perubahan pada tampak bangunan seperti penambahan jendela kaca di bagian dalam sedangkan jendela kayu tetap dipertahankan diluar. Disamping itu juga membongkar bata terawang di hook bangunan lantai atas menjadi jendela. Tetap dengan nuansa klasik bercat putih. Lantainya pun dibuat dengan menggunakan lantai semen sehingga terkesan vintage. Dan untuk menyiratkan kesan berkilat pada lantai semen tersebut, malah dipakai cara tradisional lho. Bagi yang generasi kelahiran tahun 70an pasti masih menemukan ini saat masa kecilnya. Banget, menggunakan kelapa yang sudah dikukur lalu digosokkan ke lantai. Ini kerjaan masa kecil saya soalnya. Ha...ha... Dijamin bagi yang tidak pernah melihat foto asli bangunan, tentunya tidak akan menyangka seperti apa bentuk aslinya. Karena memang detail dan pengerjaan restorasinya begitu halus.



Begitu membuka daun pintu Weekend seakan membuka pintu ke masa lalu. Furnitur-furniture yang desain minimalis dengan tone berwarna coklat dan hitam, kontras dengan warna dinding dan plafon yang digunakan. Belum lagi ditambah sentuhan klasik pada lampu-lampu ekspos yang menggantung rendah. Angan pun tercipta, seperti ini mungkin rupanya dulu noni-noni Belanda bercengkerama sambil menikmati senja melalui jendela yang lebar.

Kami pun langsung naik ke lantai dua. Enaknya di lantai dua adalah banyak spot-spot untuk berswafoto yang instagramable. Dilantai dua juga ada ruangan VIP dan satu ruangan khusus yang ditempatkan untuk bisa menikmati segarnya angin malam.  Sayangnya ketika itu ruangan ini sudah ditempati orang saat itu. Oh ya jendela-jendela besar di Weekend memang ditutup namun jangan khawatir pendingin udaranya ada kok.



Usul saya sih, akan lebih baik kalau ada satu pojok yang memuat sejarah gedung ini di masa lalu. Ya foto gedung aselinya, kliping berita  atau cuma teks yang memaparkan tentang sejarah gedung ini. Mungkin Weekend bisa dinobatkan the most heritage cafe. Gak banyak kan cafe yang seperti ini. Padahal dengan begini, impressi penikmat kuliner akan lebih dapat.


Menu-menu di Weekend itu menyajikan makanan modern dan internasional tetapi tetap dalam kemasan yang mengesankan oldish. Lihat saja kepada bentuk wadah sajinya. Anak-anak memesan Cream Milkshake yang tatakannya dari balon binatang. Lucu namun sayang gak boleh dibawa pulang.


*Salt and Pepper Chicken

Nessa yang biasanya gak suka pedas, namun ternyata amat menyukai Salt and Pepper Chicken dari Weekend. Enak dan menyegarkan. Tahu goreng bumbu kacangnya juga enak. Langsung diambil alih oleh Dhila yang kesemsem sama mie-nya.
Tahu Goreng Bumbu Kacang 

*Risoles Oma Lie
Pak suami memesan Risoles Oma Lie. Sekilas tampilannya dan isinya gak beda jauh dari risoles pada umumnya. Tapi memang enak banget, dijamin pengen nambah. Genmaicha Green Tea-nya juga seger. Dan yang paling penting, pelayannya cepat gak pake lama. Catat ya. Yang penting saat tanggal tua, slip tagihan kita berlima tidak lebih dari dua ratus ribu rupiah. Worth it to try kan? "Nanti pas mami ulangtahun, kita makan-makan disini lagi ya," kata pak suami.

Oh ya bagi muslim/muslimah yang bersantap di Weekend jangan khawatir, di lantai 2.5 ada ruangan sholatnya. Tapi sayangnya saat kemarin saya kesana, masih minim jumlah mukena dan sajadahnya. Mohon ditindaklanjuti ya buat manajemen Weekend. Apalagi kondisinya ruang sholat berdekatan dengan pompa air, jadi kurang khusyuk gimana gitu. Akan lebih baik kalau dibikin partisi antara ruang sholat dengan tanki-tanki air tersebut jadinya ruangan sholat bisa lebih representatif. Apalagi Sumbar sudah dijadikan destinasi wisata halal Indonesia dan Dunia tahun kemarin kan? Saatnya berbenah bagi pelaku industri pariwisata dalam menyikapinya.

Bagi yang mau berwisata kuliner ke Weekend, bisa datang ke Jalan Kelenteng II no 1 Kampung Cina Padang. Buka dari jam 11 siang hingga jam 10 malam kecuali hari Selasa libur. Butuh reservasi silahkan menghubungi  0811 6630099.



6 komentar:

  1. Tempatnya cakep banget mbaa. Aku suka tempat makan yang bersejarah ala ala kolonial begitu mba :)

    BalasHapus
  2. Lokasinya bagus dan Nyaman nih ....
    semoga rasa dan kualitas makanannya juga Mantap dah

    BalasHapus
  3. baru sekali uni melewati Kampung Cina, tujuan utama sih ke jembatan Siti Nurbaya, dan langsung terkesan dengan bangunan2 tuanya..
    tak tahu kalau di Padang ada kampung Cina cantik...
    semoga aja kota tua ini dibikin lebih rapi sedikit, jadi alternatif wisata baru di kota Padang

    BalasHapus
  4. Wah bangunan ini dicat ulang trus jadi cafe ya, mampir ah kalau balik Padang, kayaknya lucu. Ini yang di pojokan deket kelenteng sama deket muaro kan ya? :D

    BalasHapus