Inside of West Sumatera: Kesabaran dan Keuletan, Si Pembentuk Cita Rasa Rendang Suliki
Yang Paling Dicari
Sabtu, 30 September 2017

Kesabaran dan Keuletan, Si Pembentuk Cita Rasa Rendang Suliki


Lebaran memang membawa banyak manfaat. Lebaran dapat mempererat silaturrahmi dengan sesama anggota keluarga, sanak family, dan tetangga.  Saling kunjung mengunjungi, memberi makanan tamu yang datang atau hanya sekedar buah tangan.

Belum lagi praktek mudik atau pulang kampung yang memberi ikatan secara historis dan psikologis. Kembali ke kampung berarti kembali ke asal. Dari sanalah ayah bunda, kakek nenek kita berasal.  Betapa sedihnya bagi yang tidak punya kampung.

“ Lebaran kemana?”

“Gak kemana-mana. Disini Aja” Alamak malangnya.

Apalagi buat warga suku Minang. Kampung identik dengan sawah, rumah gadang yang selalu memanggil untuk pulang.

Dan lebaran merupakan momen yang tepat untuk mengenalkan kepada sikembar darimana asal kakeknya.  Melalui lebaran anak-anak menjadi terhubung dengan masa lalu kakeknya. Rumah Gadang kakek dimana, kamar kakek dulunya, sekolah kakek dan sanak family yang ada.

Namun, tidak hanya sikembar yang berbahagia dengan berlebaran di kampung kakek. Saya sendiri juga sangat merindukan momen pulang ke kampung kakek yang hanya bisa kami lakukan setahun sekali. Ya, hanya di momen lebaran.

Apa pasal?

Tahukan kamu makanan paling lezat dunia? Warga minang tentu sangat berbangga hati karena Rendang kuliner khas minang menjadi masakan paling lezat. Dan tahukah kamu bahwa Rendang Payakumbuh (baca : Rendang Suliki)  merupakan rendang paling enak seantero Sumatera Barat. Dibuat dari santan pilihan yang dimasak dengan memakai kayu. Kalau anda memakannya maka akan langsung terasa enak dan terasa perbedaannya dengan rendang-rendang yang sudah anda jumpai. Minim minyak dan dedak rendang yang kering. Sehingga terasa gurih dilidah. Rindu dengan Rendang Suliki merupakan alasan terbesar saya untuk datang lebaran ke kampung papa.

“Anak-anak, nanti makan yang banyak ya. Rendang di kampung kakek enak lho.”

Saya sudah jauh-jauh hari mengompori mereka untuk makan. Dan ternyata, memang mereka menyukainya. Jadilah mereka makan bertambah di rumah kakek.
Rendang dan deretan masakan di rumah kakek di Suliki Ketika Lebaran

Zaman sekarang, masak rendang sudah bukan perkara yang sulit. Dengan adanya kompor gas, dengan api yang konsisten menyala rendang sudah bisa dinikmati di meja makan setelah dimasak selama kira-kira empat-lima jam.

"Apa sih, Pa yang membuat rendang Suliki terasa istimewa di lidah?" tanya saya pada kakek anak-anak.

Ternyata rahasianya ada di proses memasak dan bahannya, saudara-saudara. Menurut papa untuk satu kilogram daging, minimal memakai lima kelapa ukuran besar untuk santannya. Santan dipilih dari kelapa tua yang kental airnya yang akan menghasilkan banyak minyak. Walaupun dulu transportasi ke Suliki belum terlalu lancar, dan kelapa harus didatangkan dari Pariaman, namun penduduk Suliki tetap mempertahankan penggunaan jumlah kelapa yang banyak.

Rahasia kedua, adalah di media bakarnya. Kayu bakar dan kadang juga sabut kelapa digunakan sebagai bahan bakarnya. Penggunaan kayu dan sabuk kelapa memang dipercaya lebih melezatkan rendang di lidah. Api dari kayu dan sabut kelapa memang akan lebih menimbulkan asap yang banyak apabila dibakar. Namun dari asap tersebut akan menambah cita rasa rendang Suliki. Makanya, penduduk Suliki selalu memasak rendang di luar rumah untuk mengantisipasi asap yang lebih banyak yang ditimbulkan dari api kayu bakar.

Nah rahasia ketiga, adalah dari proses pengolahan. Daging yang telah dibersihkan, dilumuri cabe giling halus dan kemudian diungkap hingga daging matang. Papa menyebutnya dengan istilah di-kacuik. Sementara itu santan dipanaskan dan jika sudah mulai masak dan mengental barulah daging yang sudah diungkap serta bumbu-bumbu pemasak rendang dimasukkan ke dalam wajan.

Rahasia terakhir adalah kesabaran dan keuletan. Karena memang memasak rendang Suliki harus memiliki dua hal ini. Sabar dan ulet mengaduk rendang hingga semua daging termasak sempurna baik yang dibagian atas wajan maupun di bawah. Yang waktunya bukan hanya satu dua jam, namun bisa lebih dari setengah hari. Memasak rendang Suliki menggunakan api sedang, jika sudah menjadi kalio hingga daging dan santan berubah warna menjadi lebih gelap. Dan bertambah gelap, bahkan hampir berwarna kehitaman untuk rendang Suliki. Tekstur rendang Suliki yang tidak berminyak serta warna yang lebih gelap dari rendang-rendang lain yang umumnya berwarna coklat, lebih dikarenakan proses pemasakan yang lebih lama.

Gimana teman-teman, mau merasakan nikmatnya rendang Suliki. Datang aja ke rumah saya karena kakek siap untuk membagi ilmunya dalam hal memasak rendang. Ya, beliau hingga sekarang masih merupakan chef utama di rumah kalau kami memasak rendang.

Rendang Buatan Kakek, Masih Dalam Tahap Kalio

Tidak ada komentar:

Posting Komentar